Zaman kita mengganti rantai dengan kontrak, dan perbudakan dengan eksploitasi yang halus: membayar manusia serendah mungkin, mengambil tenaganya sebanyak mungkin, demi keuntungan yang — pada akhirnya — tidak akan pernah dibawa mati.
Datang sendiri, pergi sendiri
Ada satu fakta yang jika benar-benar diyakini, akan mengubah cara kita memperlakukan harta dan manusia: kita datang ke dunia tanpa membawa apa pun, dan kita pergi menghadap Allah seorang diri. Tidak ada satu rupiah pun dari keuntungan yang kita peras ikut serta. Al-Qur'an menggambarkan hari itu dengan tegas:
Harta yang paling kita banggakan — perusahaan, rekening, portofolio — akan diwarisi orang lain, sementara kita berangkat sendirian. Maka pada hari itu, apa yang benar-benar kita bawa? Bukan yang kita kumpulkan, melainkan yang kita jadikan. Allah menyebut ukurannya:
Kalau harta tidak dibawa mati dan tidak menolong di hari itu, mengapa kita rela menghalalkan segala cara — termasuk memeras manusia lain — demi menumpuknya? Pertanyaan ini bukan retorika. Ia adalah koreksi paling mendasar atas cara kita bekerja dan berniaga.
Eksploitasi: perbudakan modern yang halus
Perbudakan klasik telah dihapus dari buku sejarah, tetapi ruhnya pindah ke bentuk baru: eksploitasi. Ia terjadi ketika seseorang memanfaatkan kebutuhan orang lain untuk mengambil hasil keringatnya dengan upah yang ditekan serendah mungkin — padahal mampu membayar lebih. Ia terjadi ketika tenaga diambil maksimal, hak dipangkas, dan manusia diperlakukan sebagai alat produksi, bukan sebagai manusia.
Al-Qur'an menyebut praktik semacam ini dengan nama yang tidak diplomatis: memakan harta orang lain secara batil:
Perhatikan batas yang Allah pasang: harta orang lain halal hanya lewat tijaratan 'an taradhin — transaksi yang lahir dari kerelaan kedua belah pihak. Ketika upah dipaksa rendah bukan karena kerelaan, tetapi karena pekerja tidak punya pilihan — itu bukan lagi kerelaan, itu pemerasan halus yang dibungkus kontrak.
Al-Qur'an bahkan menurunkan surat khusus untuk para penekan hak: Al-Muthaffifin, “orang-orang yang curang” — yang ketika menerima dari orang lain minta dipenuhi, tetapi ketika memberi untuk orang lain mengurangi:
Ayat ini turun tentang penjual yang mengurangi takaran — tetapi ruhnya mencakup semua bentuk “mengurangi hak orang lain”: majikan yang mengurangi upah, pembeli yang menekan harga di bawah wajar dari pedagang kecil, pengusaha yang memangkas hak pekerjanya. Wail — celaka — adalah kata yang keras, dan ia ditujukan kepada siapa pun yang mengambil lebih dari haknya dan memberi kurang dari hak orang lain.
Upah sebelum kering keringatnya
Islam tidak hanya melarang menekan upah — ia memerintahkan membayarnya dengan segera dan penuh. Rasulullah ﷺ bersabda:
Kalimat ini bukan sekadar soal ketepatan waktu pembayaran. Ia adalah pernyataan tentang martabat pekerja: keringatnya belum kering, haknya sudah harus di tangan. Dalam pandangan Islam, pekerja bukan pihak yang bisa ditunda-tunda karena “lagi butuh”; ia adalah manusia yang tenaga dan waktunya telah menjadi hak orang lain, dan orang lain itu memikul utang kepadanya sampai dilunasi. Menunda upah orang yang bekerja untuk kita, padahal kita mampu, adalah kezaliman — dan menundanya sampai menyusahkan keluarganya adalah dosa yang tidak ringan.
Fitrah manusia: merdeka
Di balik larangan eksploitasi ada satu keyakinan besar yang diajarkan Islam: manusia dilahirkan merdeka. Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu menegurnya dengan kalimat yang mengguncang penguasa yang semena-mena:
Umar mengucapkan ini kepada gubernurnya sendiri, di hadapan rakyat yang dizalimi. Bayangkan keberaniannya: khalifah penguasa seluruh negeri menegur bawahannya karena memperlakukan manusia sebagai budak. Dan kalimatnya menegaskan sebuah fitrah: kemerdekaan bukan pemberian penguasa, ia bawaan lahir. Siapa pun yang memperlakukan manusia di bawah martabat kemerdekaannya — menekan, mengeksploitasi, memperalat — telah menabrak fitrah yang Allah tetapkan.
Karena itu Islam tidak tinggal diam dengan perbudakan yang diwarisi sejarah: ia menutup pintu-pintunya, lalu membuka jalan selebar-lebarnya untuk membebaskan. Membebaskan budak disebut Allah sebagai salah satu perbuatan teragung — al-'aqabah, jalan mendaki yang sulit itu:
Fakku raqabah — melepaskan belenggu dari tengkuk. Secara harfiah ini tentang budak; secara ruh, ia adalah proyek yang terus berlanjut: melepaskan belenggu manusia dalam segala bentuknya — belenggu kemiskinan yang dipelihara, belenggu hutang yang menjerat, belenggu upah yang tidak adil, belenggu perlakuan yang merendahkan. Setiap kali kita memperjuangkan hak orang yang tidak punya kuasa, kita sedang melakukan fakku raqabah di zaman kita.
Merdeka yang sejati: tidak menjadi hamba selain Allah
Ada satu lapisan lagi yang harus dibongkar. Eksploitasi lahir dari dalam, sebelum lahir ke pasar: dari hati yang diperbudak harta. Orang yang jiwanya menjadi budak keuntungan akan rela memperbudak orang lain demi tuannya itu. Rasulullah ﷺ menggambarkan perbudakan batin ini:
Perhatikan istilahnya: 'abdu — hamba. Seseorang bisa tampak bebas, punya perusahaan dan rekening besar, tetapi jiwanya adalah budak: budak dinar, budak keuntungan. Ia tidak pernah tenang; setiap angka menentukan suasana hatinya. Dan budak seperti inilah yang paling mungkin mengeksploitasi orang lain — karena tuannya (ketamakan) tidak pernah puas, dan ia akan memeras siapa pun untuk memberi makan tuannya itu.
Maka kemerdekaan sejati dalam Islam justru dimulai dari pengakuan yang ada di Al-Fatihah: “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah” (QS Al-Fatihah 1:5). Siapa yang hatinya hanya mengabdi kepada Allah, ia merdeka dari perbudakan makhluk — tidak tunduk pada tekanan manusia, tidak pula diperbudak harta. Ia bisa menghadapi atasan yang zalim tanpa kehilangan martabat, dan bisa memiliki uang tanpa dikuasai uang. Hamba Allah adalah manusia yang paling merdeka: satu tuan, dan Tuan itu Maha Pemurah.
Menjadi manusia yang memerdekakan
Maka inilah ringkasnya — dua sisi dari satu panggilan:
- Merdeka dari dalam. Bebaskan dirimu lebih dulu: dari perbudakan harta (jangan jadikan keuntungan tuhanmu), dari gengsi yang memaksa mengeksploitasi, dari hutang yang menjerat (lihat Ketika Gaya Hidup Berhutang). Hamba Allah tidak bisa diperbudak.
- Memerdekakan dari luar. Jangan memperbudak siapa pun: bayar upah sebelum kering keringatnya, beri hak tanpa dipinta, jangan tekan yang lemah karena kebutuhan (lihat Ad-Dhuha: jangan menindas yatim, jangan menghardik peminta), dan bela yang dieksploitasi ketika engkau punya kuasa.
Ingatlah selalu bingkai pembuka tadi: kita datang sendiri dan pergi sendiri, tanpa harta. Yang tersisa dari hidup kita bukan angka di rekening, melainkan berapa banyak manusia yang kita perlakukan sebagai manusia — dan berapa banyak yang kita belenggu atau kita merdekakan. Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, yang menemani kita hanya hati yang bersih: hati yang tidak pernah tega memperbudak sesama, karena ia sendiri hanya menghamba kepada Allah.